Dalam Waktu Hanya 18 Hari, Tiga Petenis Asing Serang China: Soal Makanan, Batuk Tak Henti, dan Polusi Udara

Pada 5 Oktober, petenis asal Prancis Lindekoné, yang tengah berkompetisi di Shanghai Masters, kembali memicu kontroversi setelah secara terbuka mengkritik cuaca dan tingkat polusi di China. Ia bahkan mengatakan bahwa “hidup di sini saja sudah merupakan tantangan.” Dengan pernyataannya ini, Lindekoné menjadi pemain asing ketiga dalam 18 hari terakhir yang melontarkan komentar negatif tentang China selama musim turnamen Asia.
Musim Tenis China yang Disiapkan dengan Sempurna
Sejak pertengahan September, rangkaian turnamen besar seperti Billie Jean King Cup, China Open, dan Shanghai Masters telah digelar di berbagai kota di China—mulai dari Shenzhen, Beijing, hingga Shanghai.
Pihak penyelenggara telah melakukan persiapan matang untuk menyambut para atlet mancanegara: menyediakan makanan lezat, akomodasi nyaman, dan fasilitas kelas dunia agar mereka dapat tampil dengan kondisi terbaik.
Namun sayangnya, beberapa pemain asing tetap memilih untuk mencari-cari kekurangan, alih-alih menghargai keramahan dan profesionalisme tuan rumah.
Rangkaian Komentar Kontroversial
Semuanya bermula pada 17 September, ketika petenis asal Amerika Serikat Taylor Townsend menulis komentar di media sosial yang menyinggung kuliner China:
Kemudian pada 26 September, dalam pertandingan tunggal putra China Open, petenis Italia Lorenzo Musetti menunjukkan ketidaksenangannya terhadap suara batuk di tribun. Tanpa memverifikasi kebenarannya, ia bergumam kesal:
Ironisnya, penonton di lokasi kemudian menjelaskan bahwa suara batuk tersebut justru berasal dari penonton asal Prancis, bukan warga China.
Insiden Baru di Shanghai
Kini, petenis berusia 30 tahun Lindekoné kembali memperkeruh suasana. Dalam sebuah wawancara, ia menuding kelembapan dan polusi udara di Shanghai, bahkan mengatakan bahwa “banyak kota di China sangat tercemar” dan “hidup di sini sulit.”
Sebelumnya, baik Townsend maupun Musetti telah menyampaikan permintaan maaf publik atas komentar mereka yang menuai kecaman. Namun, hingga kini Lindekoné belum menunjukkan penyesalan serupa.
Lebih dari Sekadar Permintaan Maaf
Namun pertanyaannya, apakah permintaan maaf cukup untuk menghapus prasangka mendalam terhadap China?
Bagi siapa pun yang pernah menyaksikan keramahan, profesionalisme, dan kemajuan fasilitas olahraga di China, jawabannya mungkin sudah sangat jelas.