Benarkah Mendengarkan Cerita Bisa “Merusak Otak”? Pandangan Ahli

Banyak orang tua khawatir ketika anak lebih suka mendengarkan cerita ketimbang membaca buku bergambar. Apakah ini bisa merusak konsentrasi, bahkan “merusak otak”?
Hal pertama yang harus dipahami: tanpa melihat durasi, frekuensi, dan intensitas, kesimpulan apa pun akan keliru.
1. Apakah mendengarkan cerita mengganggu konsentrasi?
Lihat kondisi anak. Jika ia tetap bisa fokus bermain balok, menggambar, atau membaca sambil mendengarkan audio, maka tidak masalah—suara itu ibarat musik latar yang kadang justru membantu konsentrasi.
Namun jika anak langsung berhenti beraktivitas karena terdistraksi, sebaiknya hentikan audio.
Intinya: jangan biarkan anak mengerjakan dua hal yang sama-sama “berat bagi otak” secara bersamaan.
2. Apakah terlalu sering mendengarkan bisa menghambat membaca dan menulis?
Benar, keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis sama-sama penting. Tapi bila anak hanya mendengar cerita sekitar 30–60 menit sehari, tidak akan berdampak buruk.
Yang bermasalah adalah bila anak hanya mendengar tanpa membaca atau menulis sama sekali. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya membuat jadwal seimbang: waktu mendengarkan, membaca, menulis, serta bermain.
3. Apakah mendengarkan audio merusak otak?
Belum ada bukti ilmiah jelas. Namun, ketergantungan pada audio atau video pendek bisa membuat anak sulit menghadapi kebosanan dan malas berpikir mendalam.
Solusinya: ajak anak melakukan kegiatan beragam—bermain di luar, main board game, membaca buku cerita penuh, hingga aktivitas kreatif lain.
Kesimpulan: Pola asuh yang baik bukan soal melarang ini atau itu, melainkan soal keseimbangan. Sesekali mendengarkan audio itu wajar, tapi dalam kehidupan sehari-hari, yang penting adalah keberagaman pengalaman: bermain, belajar, berpikir, dan berinteraksi dengan orang tua.