Pada 12 Mei 2025, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) mengumumkan dalam kongres perwakilan di utara Irak: pelucutan senjata secara menyeluruh dan pembubaran resmi, mengakhiri konflik bersenjata lebih dari 40 tahun dengan pemerintah Turki.

Pada 12 Mei 2025, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) mengumumkan dalam kongres perwakilan di utara Irak: pelucutan senjata secara menyeluruh dan pembubaran resmi, mengakhiri konflik bersenjata lebih dari 40 tahun dengan pemerintah Turki.

Latar Belakang:

  • Sejak didirikan pada 1979, PKK berjuang untuk mendirikan pemerintahan merdeka di wilayah perbatasan Turki, Irak, Iran, dan Suriah.
  • Mulai 1984, PKK berulang kali terlibat konflik bersenjata dengan pemerintah Turki, menewaskan puluhan ribu orang; pada 1999, pemimpin mereka Abdullah Öcalan ditangkap dan dipenjara dalam waktu lama.
  • Pada 2012, kedua pihak sempat membuka “Proses Perdamaian”, namun gagal menyelesaikan sengketa secara tuntas.

Alasan Pembubaran:

  1. Perubahan Situasi Regional
    • Setelah rezim Suriah berganti pada Desember 2024, Turki mendapat izin untuk memasuki wilayah Suriah dan menargetkan pasukan PKK yang bersembunyi, sehingga PKK kehilangan posisi tawar.
  2. Jepit Negosiasi Pemimpin
    • Pemerintah Turki menawarkan pembebasan Öcalan sebagai imbalan agar PKK menghentikan kekerasan dan membubarkan diri di bawah jaminan “tanpa serangan”.
  3. Pertimbangan Biaya Jangka Panjang
    • Perjuangan bersenjata selama puluhan tahun tak menghasilkan otonomi nyata, malah memperparah kekacauan dan penderitaan warga Kurdi.

Dampak dan Prospek:

  • Presiden Turki Erdoğan menyebut ini sebagai langkah kunci menuju “Turki tanpa terorisme”; partai berkuasa juga menilai keamanan negara akan lebih hemat biaya.
  • Dengan sekitar 20% penduduk Turki adalah etnis Kurdi, tantangan selanjutnya adalah bagaimana Kurdi memperjuangkan haknya melalui jalur politik dan budaya demi stabilitas kawasan.