Dari sangat populer jadi sepi: Royal Tramp II diputar ulang tanpa pemotongan—mengapa reputasi Stephen Chow bisa sampai di titik sekarang?

Dari sangat populer jadi sepi: Royal Tramp II diputar ulang tanpa pemotongan—mengapa reputasi Stephen Chow bisa sampai di titik sekarang?

Menjelang musim libur Imlek, pasar film Tiongkok terlihat lesu. Hanya sedikit film baru yang menarik perhatian, sementara banyak judul besar justru gagal secara komersial dan kritik.

Dalam kondisi ini, film klasik kembali diputar di bioskop, termasuk Royal Tramp 2 yang dibintangi Stephen Chow. Namun alih-alih disambut nostalgia, film tersebut justru menuai kritik karena dianggap sekadar “mengulang masa lalu” tanpa daya tarik baru.

Sebelumnya, A Chinese Odyssey sempat sukses saat diputar ulang berkat restorasi dan tambahan adegan. Namun re-release berikutnya, seperti The God of Cookery dan Royal Tramp, menunjukkan penurunan drastis dalam minat penonton.

Sejak beralih ke belakang layar, karya-karya baru Stephen Chow dinilai semakin bergantung pada IP lama. Dengan selera penonton yang terus berkembang, nostalgia saja tak lagi cukup.

Stephen Chow tetap legenda, tetapi era kejayaan box office-nya tampaknya telah berlalu. Kini, penonton lebih memilih film baru berkualitas dibanding mengulang kenangan lama.